Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bitcoin Jadi Alat Perang? Iran Wajibkan 'Tol Bitcoin' di Selat Hormuz, Harga Meroket ke $75.000!

Bitcoin Jadi Alat Perang? Iran Wajibkan 'Tol Bitcoin' di Selat Hormuz, Harga Meroket ke $75.000! - Dunia kripto kembali diguncang kabar fenomenal. Harga Bitcoin (BTC) mencatatkan lonjakan tajam sebesar 6% hingga hampir menyentuh level US$75.000 pada Senin (13/4). Menariknya, kenaikan ini bukan sekadar spekulasi pasar biasa, melainkan dampak langsung dari memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Fenomena ini bermula dari blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat yang memicu short squeeze masif. Sebagai langkah balasan yang tak terduga, Iran menerapkan kebijakan mewajibkan pembayaran ‘Tol Bitcoin’ bagi seluruh kapal tanker yang melintasi jalur krusial tersebut.

Bitcoin Jadi Alat Perang? Iran Wajibkan 'Tol Bitcoin' di Selat Hormuz, Harga Meroket ke $75.000!


Strategi "Tol Bitcoin" Iran: Melawan Sanksi dengan Blockchain

Langkah Iran mengenakan tarif setara US$1 per barel dalam bentuk Bitcoin menciptakan permintaan organik yang sangat besar secara instan. Dengan memanfaatkan sistem pembayaran berbasis blockchain, Iran berupaya memastikan transaksi tetap berjalan sekaligus menghindari sanksi internasional dari sistem keuangan konvensional yang dikuasai AS.

Baca juga:Realme GT 7T Review: Performa Flagship, Baterai Tahan Lama!

Menanggapi hal ini, Antony Kusuma, Vice President INDODAX, menyatakan bahwa peran kripto kini telah bergeser dari sekadar aset investasi menjadi alat strategis dalam ekonomi global.

“Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik dan inflasi menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai (hedging). Penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal kuat bahwa adopsi kripto telah memasuki fase baru yang meluas hingga ke ranah perdagangan internasional,” ujar Antony.

Inflasi AS dan Arus ETF Memperkuat Narasi "Safe Haven"

Selain faktor geopolitik, tekanan ekonomi di Amerika Serikat turut memperkuat posisi Bitcoin. Data inflasi (CPI) AS naik ke angka 3,3% pada Jumat (10/4), jauh di atas rata-rata tren dua tahun terakhir. Kondisi ini mendorong investor melakukan diversifikasi ke aset alternatif yang dianggap lebih aman dari pelemahan mata uang konvensional.

Sentimen positif ini juga didukung oleh data likuiditas yang kuat:

  • Inflow ETF Bitcoin Spot: Mencapai sekitar US$1,94 miliar sepanjang Maret hingga April 2026.
  • Likuidasi Short Position: Dinamika pasar menyebabkan likuidasi posisi short senilai ratusan juta dolar, yang semakin mendorong harga ke atas.

Ethereum dan Altcoin Ikut "Pesta"

Rally yang dipimpin oleh Bitcoin ini turut mendongkrak performa aset kripto lainnya (Altcoins). Berdasarkan data CoinMarketCap:

  • Ethereum (ETH): Melesat 8% ke level US$2.380.
  • Solana (SOL): Menguat 5,2% ke level US$86,60.
  • BNB: Naik 3,2% ke posisi US$615,50.

Waspada Volatilitas: April Bulan Positif?

Secara historis, bulan April memang sering menjadi bulan "hijau" bagi Bitcoin dengan rata-rata kenaikan mencapai 69% sejak 2013. Hingga kuartal kedua 2026, Bitcoin sendiri tercatat sudah naik sebesar 8,64%.

Meski tren menunjukkan penguatan, INDODAX mengingatkan para investor agar tetap waspada terhadap volatilitas tinggi. Faktor-faktor seperti perubahan kebijakan moneter menjelang pengumuman Producer Price Index (PPI) dan musim pembayaran pajak di AS dapat memengaruhi pergerakan harga jangka pendek.

“Industri kripto mulai memperlihatkan relevansi nyata dalam sistem ekonomi global. Namun, manajemen risiko tetap menjadi kunci. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat,” tutup Antony.

Anda mungkin suka:Review Kamera Realme GT 7T dengan Sensor Sony IMX896, Sebagus Ini?

Post a Comment for "Bitcoin Jadi Alat Perang? Iran Wajibkan 'Tol Bitcoin' di Selat Hormuz, Harga Meroket ke $75.000!"