Awas Terjebak! Akses Keuangan RI Tinggi, Tapi Kesiapan Pensiun Warga Masih Sangat Rendah Menurut Riset DBS
Awas Terjebak! Akses Keuangan RI Tinggi, Tapi Kesiapan Pensiun Warga Masih Sangat Rendah Menurut Riset DBS - Ancaman ledakan populasi menua (ageing society) di Indonesia kian nyata, berbanding terbalik dengan minimnya kesiapan finansial masyarakat untuk menghadapi masa pensiun. Realitas ini terungkap tajam dalam riset terbaru DBS Foundation bertajuk "Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?" yang diluncurkan di Jakarta pada 17 September 2026.
Fakta di lapangan menunjukkan fenomena yang paradoks: mayoritas masyarakat di usia produktif sudah melek dan memiliki akses ke layanan perbankan, namun kesadaran untuk menyiapkan jaring pengaman finansial di hari tua masih tertinggal jauh. Kondisi ini memicu bom waktu bagi generasi produktif yang terancam memikul beban finansial berlapis sebagai sandwich generation.
Menyusutnya Bonus Demografi dan Beban Sandwich Generation
Berdasarkan data riset tersebut, Indonesia tengah mengalami transisi demografi yang agresif. Faktor pendorong utamanya adalah menurunnya angka kelahiran (Total Fertility Rate/TFR) dan meningkatnya angka harapan hidup. Berikut adalah beberapa temuan krusial yang patut diwaspadai:
Baca juga:Review Kamera Xiaomi 13T dengan Sensor Sony IMX707, Masih Bersaing dengan HP Sekarang?
- Lonjakan Populasi Lansia: Populasi warga lanjut usia (lansia) di Indonesia telah menyentuh 12 persen pada 2025 dan diproyeksikan melonjak drastis hingga lebih dari 20 persen pada 2045.
- Angka Kelahiran Merosot: TFR turun tajam dari 3,11 anak per perempuan di awal 1990-an menjadi 2,13 pada 2024, dan diprediksi hanya tersisa 1,97 pada 2045. Jumlah pernikahan juga turun dari 2,01 juta (2018) menjadi 1,48 juta (2025).
- Ketergantungan Absolut: Sebanyak 82,96 persen rumah tangga lansia saat ini sangat bergantung pada penghasilan dari anggota keluarga yang bekerja. Kurang dari 1 persen yang mampu bertahan hidup dari tabungan atau investasi mandiri.
- Terpaksa Bekerja di Usia Senja: Ironisnya, 55,32 persen lansia masih terpaksa mencari nafkah, di mana 84,75 persen di antaranya terjebak di sektor informal yang tidak menentu dan tanpa tunjangan.
Menyusutnya jumlah anggota keluarga usia produktif berarti tanggung jawab finansial dan perawatan orang tua akan ditanggung oleh semakin sedikit orang, membuat tekanan bagi sandwich generation di masa depan berpotensi semakin mencekik.
Paradoks Akses Keuangan dan Kesiapan Pensiun
Riset DBS Foundation juga menyoroti celah menganga antara akses keuangan dengan kesiapan dana pensiun. Pada kelompok usia produktif 18–50 tahun, tingkat inklusi keuangan sebenarnya sangat tinggi, mencapai 93,5–95,1 persen. Namun, akses ini masih didominasi oleh layanan perbankan dasar (65,5 persen).
Baca juga:Review Kamera Realme 15T Berkekuatan 50MP dengan Sensor OmniVision OV50D40
Kenyataan pahitnya, tingkat kepemilikan tabungan atau dana pensiun hanya berada di angka 5,37 persen, padahal literasi tentang pentingnya dana pensiun sudah mencapai 27,79 persen.
"Di DBS Foundation, kami percaya persiapan menghadapi populasi menua perlu dilakukan sejak usia produktif. Untuk itu, kami berkomitmen mendukung kesiapan masyarakat rentan agar lebih tangguh secara sosial dan finansial. Kami ingin setiap orang dapat menjalani proses menua dengan sehat, produktif, sejahtera, dan mandiri," tegas Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika.
Edukasi Sejak Dini dan Kalkulator Masa Depan
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menekankan pentingnya pendekatan life-course atau pendekatan sepanjang siklus kehidupan. Menurutnya, program pemerintah harus memastikan setiap fase kehidupan, mulai dari masa kanak-kanak hingga lansia, mendapatkan perhatian dan perlindungan sosial yang tepat agar masyarakat tidak hanya sekadar menua, tetapi juga berdaya.
Sejalan dengan hal tersebut, Artist, Entrepreneur sekaligus Founder Cinta Laura Foundation, Cinta Laura Kiehl, melihat kesiapan masa depan harus dibangun sedini mungkin lewat pendidikan.
“Kemandirian di masa depan dibangun dari keinginan untuk terus belajar. Cinta Laura Foundation mendukung mahasiswa menyelesaikan pendidikan sekaligus mengembangkan leadership, literasi finansial, dan kesiapan karier agar mereka lebih siap membangun masa depan yang mereka inginkan,” ujar Cinta.
Untuk memudahkan masyarakat mengambil langkah pertama yang realistis, Bank DBS Indonesia melalui kampanye "Pensiun Gak Susah" menghadirkan inovasi Retirement Goal Calculator. Alat digital ini memungkinkan pengguna memproyeksikan secara presisi berapa dana yang dibutuhkan di masa depan berdasarkan target usia pensiun, gaya hidup, asumsi inflasi, hingga imbal hasil investasi.
Hibah DBS Foundation untuk Ekosistem Lintas Generasi
Sebagai wujud komitmen nyata, DBS Foundation terus bergerak aktif menyalurkan dana hibah untuk memperkuat ketahanan sosial. Sejak 2015, yayasan ini telah menggelontorkan lebih dari SGD 26 juta kepada lebih dari 180 social enterprises dan Businesses for Impact di seluruh Asia.
Khusus di Indonesia, dana lebih dari SGD 4 juta telah dialokasikan kepada 25 pemenang untuk menuntaskan berbagai isu, mulai dari pendidikan, keterampilan digital bersama Dicoding, hingga peningkatan gizi anak bersama UNICEF.
DBS Foundation juga meluncurkan Impact Beyond Award (IBA) pada 2024, sebuah program yang mendanai inovasi khusus untuk menjawab tantangan populasi menua. Saat ini, total hibah senilai SGD 3 juta telah disalurkan kepada empat social enterprise di Asia yang berfokus pada pelatihan caregiver hingga pengembangan teknologi kemandirian lansia.
Upaya proaktif ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci utama agar transisi demografi di Indonesia tidak berujung pada bencana, melainkan menjadi momentum untuk membangun masyarakat yang sejahtera di setiap jenjang usia.
Anda mungkin suka:Banting dan Injak Laptop di Asus Media Gathering Yogyakarta 2026
Post a Comment for "Awas Terjebak! Akses Keuangan RI Tinggi, Tapi Kesiapan Pensiun Warga Masih Sangat Rendah Menurut Riset DBS"