Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bukan Lagi Retas Sistem, Hacker Kripto Kini Incar Kelemahan Manusia Pakai AI

Bukan Lagi Retas Sistem, Hacker Kripto Kini Incar Kelemahan Manusia Pakai AI - Era di mana hacker harus bersusah payah membobol enkripsi sistem bursa kripto tampaknya mulai bergeser. Saat ini, para pelaku kejahatan siber menemukan celah keamanan yang jauh lebih rapuh dan mudah dieksploitasi: psikologi manusia.

Dengan memanfaatkan rekayasa sosial (social engineering), phishing, hingga penyalahgunaan Artificial Intelligence (AI) seperti deepfake dan voice cloning, peretas kini lebih memilih memanipulasi kesadaran pengguna untuk menyerahkan aset digital mereka secara sukarela.

Bukan Lagi Retas Sistem, Hacker Kripto Kini Incar Kelemahan Manusia Pakai AI


Ancaman AI: Cuma Butuh 10 Detik untuk Kloning Suara!

Laporan terbaru dari firma keamanan siber NordStellar mengungkap fakta yang cukup mengerikan. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, aktivitas jual-beli layanan Deepfake-as-a-Service (DFaaS) di forum dark web melonjak tajam hingga 39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga:Realme P4x dan P4 Lite Dirilis, Bawa Baterai Badak 8000mAh, Tangguh Buat Mabar Seharian

Teknologi AI yang makin canggih kini membuat penipuan identitas sangat sulit dibedakan dari aslinya. Bayangkan, teknologi voice cloning saat ini hanya membutuhkan sampel audio berdurasi 10 detik untuk meniru suara seseorang dengan sempurna. Hal ini membuat banyak korban terkecoh karena merasa sedang berbicara dengan kerabat, keluarga, atau pihak otoritas resmi.

Fakta ini menjadi sorotan utama Chief Information Security Officer (CISO) INDODAX, Ledy, dalam forum diskusi bertajuk Beyond Code: The Human Side of Crypto Security. Mengusung tema "Security Starts With You", Ledy menegaskan bahwa faktor manusia kini menjadi titik paling krusial dalam rantai keamanan aset digital.

Manipulasi Psikologis Lebih Berbahaya dari Peretasan Sistem

Menurut Ledy, perkembangan pesat teknologi keamanan blockchain telah memaksa para pelaku kejahatan mengubah taktik mereka secara drastis.

“Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem pada exchange. Padahal, dalam beberapa kasus yang terjadi belakangan, pelaku justru memperoleh akses karena korban secara tidak sadar memberikan informasi penting atau mengklik tautan berbahaya yang menyerupai layanan resmi,” tegas Ledy.

Saat ini, penjahat siber memanfaatkan AI untuk merancang skenario yang sangat meyakinkan. Mulai dari membuat iklan palsu di media sosial, memanipulasi mesin pencari (AI search engine repositioning), hingga menyamar sebagai layanan pelanggan (Customer Support).

Baca juga:Review Kamera Infinix Hot 50 Berkekuatan 50MP, Bagus Nggak?

Waspada CS Palsu, INDODAX Tegaskan Tidak Punya WhatsApp Resmi!

Satu taktik yang paling sering memakan korban adalah penyamaran sebagai Customer Support (CS) melalui aplikasi pesan instan. Merespons maraknya modus ini, Ledy memberikan peringatan keras kepada seluruh investor kripto tanah air.

  • Peringatan Penting: INDODAX secara tegas menyatakan tidak memiliki nomor WhatsApp Customer Support resmi.
  • Seluruh layanan pengaduan dan bantuan INDODAX hanya dapat diakses melalui nomor telepon resmi perusahaan, email, maupun kanal komunikasi di dalam aplikasi/situs web resmi.
  • Ledy mengimbau masyarakat untuk membiasakan diri melakukan riset mandiri atau Do Your Own Research (DYOR) dalam mencerna setiap informasi sebelum mengambil keputusan finansial.

Pergeseran tren kejahatan ini membuktikan bahwa perlindungan aset kripto tidak bisa lagi sekadar mengandalkan kecanggihan teknologi platform. Membangun kebersihan siber (cyber hygiene) adalah kewajiban setiap individu.

Kebiasaan untuk selalu melakukan double-check informasi, menjaga kerahasiaan data pribadi, dan mengenali format manipulasi digital adalah kunci utama agar terhindar dari kerugian.

"Platform dapat menyediakan berbagai sistem lapisan keamanan. Namun pada akhirnya, setiap keputusan tetap berada di tangan pengguna. Kami selalu mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dan selalu melakukan verifikasi sebelum memberikan informasi terkait aset digital," tutup Ledy.

Anda mungkin suka:Review Kamera Realme Note 60x: Sehebat Apa 8 Megapiksel di 2026?

Post a Comment for "Bukan Lagi Retas Sistem, Hacker Kripto Kini Incar Kelemahan Manusia Pakai AI"