Bukan Sekadar Tren, Riset DBS: Sustainability Shift di 5 Sektor Ini Jadi Kunci Daya Saing Ekonomi RI
Bukan Sekadar Tren, Riset DBS: Sustainability Shift di 5 Sektor Ini Jadi Kunci Daya Saing Ekonomi RI - Lanskap bisnis di Indonesia kini tengah mengalami transformasi besar-besaran. Keberlanjutan (sustainability) tidak lagi dipandang sekadar sebagai agenda kepatuhan terhadap regulasi, melainkan telah berevolusi menjadi strategi utama untuk menjaga ketahanan dan daya saing ekonomi nasional.
Fakta ini terungkap jelas dalam riset terbaru yang dirilis oleh Bank DBS Indonesia bertajuk "The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks". Riset ini menyoroti bahwa peluang pertumbuhan hijau sangat masif, namun setiap industri memerlukan pendekatan solusi dan pembiayaan yang spesifik.
5 Pergeseran Sektor Strategis di Indonesia
Menurut riset DBS Indonesia, kelima sektor strategis ini menghadapi tantangan dan pemicu yang berbeda dalam mengadopsi prinsip keberlanjutan:
Baca juga:Realme Buds Air 8 Review: Kualitas Suara Mantap, Fitur Super Lengkap
- Energi & Infrastruktur: Bergeser dari ketergantungan energi fosil menuju elektrifikasi dan energi terbarukan. Kebutuhan listrik diproyeksi melonjak pesat seiring masifnya adopsi kendaraan listrik (EV) dan pusat data (data center).
- Teknologi, Media, & Telekomunikasi (TMT): Fokus tidak lagi sekadar pada konektivitas dasar, melainkan berekspansi ke layanan digital tingkat lanjut. Pertumbuhan Artificial Intelligence (AI) mendorong tingginya permintaan terhadap komputasi awan dan green data center.
- Pangan & Agribisnis: Beralih dari strategi perluasan dan ekspansi lahan menuju peningkatan produktivitas, ketahanan pangan, dan sertifikasi ramah lingkungan (seperti RSPO pada industri kelapa sawit).
- Kesehatan & Farmasi: Fokus beralih dari ketergantungan impor bahan baku farmasi aktif (API) menuju lokalisasi dan resiliensi rantai pasok domestik untuk menjamin akses kesehatan yang merata.
- Logam & Pertambangan: Tidak lagi sekadar mengandalkan skala produksi mentah. Fokus industri kini bergeser ke hilirisasi baterai EV, daur ulang, dan produksi logam rendah karbon agar bisa menembus standar ketat pasar global.
Peran Bank Berubah: Tak Sekadar Pemberi Modal
Temuan menarik lainnya dari riset ini adalah bahwa proyek yang mengusung label sustainability tidak otomatis mudah mendapatkan kucuran dana. Hambatan seperti profil risiko, kesiapan proyek, hingga kompleksitas skema pembiayaan sering kali menjadi batu sandungan.
Oleh karena itu, Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menegaskan bahwa peran perbankan kini harus berevolusi.
"Perusahaan membutuhkan perspektif yang jelas untuk mengambil keputusan jangka panjang. Peran kami tidak berhenti pada penyediaan modal, tetapi juga memberikan solusi menyeluruh seperti sustainability-linked financing, blended finance, hingga pendampingan strategis (advisory) agar proyek tersebut siap dieksekusi dan komersial," paparnya.
5 Langkah Mengamankan Pertumbuhan Bisnis
Untuk menangkap peluang emas dari sustainability shift ini, Head of Research PT Bank DBS Indonesia, William Simadiputra, merangkum lima prioritas strategis bagi pelaku usaha.
Langkah tersebut meliputi: bergerak ke segmen rantai nilai yang lebih tinggi, berinvestasi pada infrastruktur pendukung, mengintegrasikan keberlanjutan dalam keputusan komersial, memperluas pembiayaan ketahanan, dan membangun ekosistem yang saling terintegrasi.
Dengan pergeseran besar ini, peta kekuatan ekonomi Indonesia akan diuji. Perusahaan yang lambat beradaptasi dengan prinsip keberlanjutan berisiko tertinggal di pasar global yang semakin menuntut standar hijau.
Anda mungkin suka:Asus VivoBook 14 A416MAO Review, Laptop Terjangkau untuk Pelajar
Post a Comment for "Bukan Sekadar Tren, Riset DBS: Sustainability Shift di 5 Sektor Ini Jadi Kunci Daya Saing Ekonomi RI"