Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Riset Terbaru 2026: AI Sukses Ubah Cara Cari Barang, Tapi Konsumen Tetap Lebih Percaya 'Review' Manusia!

Riset Terbaru 2026: AI Sukses Ubah Cara Cari Barang, Tapi Konsumen Tetap Lebih Percaya 'Review' Manusia! - Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) generatif terbukti sukses mengubah kebiasaan belanja online masyarakat di Asia Tenggara. Namun, ada satu fakta menarik yang tidak bisa digeser oleh secanggih apa pun teknologi: kepercayaan terhadap rekomendasi sesama manusia tetap menjadi raja penentu terjadinya transaksi!

Fakta menarik ini terungkap dari laporan tahunan edisi keempat bertajuk "E-commerce Influencer and Affiliate Marketing in Southeast Asia 2026". Laporan bergengsi ini dirilis secara kolaboratif oleh impact.com (penyedia infrastruktur kemitraan global), Cube (penyedia intelijen pasar e-commerce), dan Dentsu (jaringan agensi pemasaran global) pada Senin (27/7/2026).

Riset Terbaru 2026: AI Sukses Ubah Cara Cari Barang, Tapi Konsumen Tetap Lebih Percaya 'Review' Manusia!


Melibatkan 2.400 konsumen serta pakar industri dari enam negara utama di Asia Tenggara (Indonesia, Singapura, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina), riset ini membedah evolusi baru dalam lanskap perdagangan digital era AI.

Baca juga:Realme Note 60x Review: Smartphone Murah Tahan Banting, Masih Layak Pilih?

Tren Belanja Baru: ChatGPT dan Gemini Jadi Asisten Belanja Pribadi

Perjalanan konsumen saat mencari barang kini semakin terfragmentasi. Riset menemukan bahwa 1 dari 4 konsumen (24%) di Asia Tenggara kini rutin menggunakan perangkat AI generatif—seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Claude—sebagai "asisten pribadi" untuk mencari atau mempertimbangkan produk sebelum membeli.

Menariknya, tingkat adopsi tren ini sangat bervariasi antarnegara. Vietnam (34%) dan Indonesia (31%) memimpin kawasan sebagai negara yang paling getol menggunakan AI untuk mencari barang. Sebaliknya, Singapura justru mencatat tingkat adopsi terendah di angka 14%.

Jawaban yang disajikan oleh AI tersebut ternyata sangat dipengaruhi oleh suara pihak ketiga, yakni kreator konten, publisher, dan para pemberi ulasan ( reviewer ). Konten-konten buatan manusia inilah yang secara tidak langsung melatih AI untuk merekomendasikan sebuah brand kepada calon pembeli.

AI Canggih, Tapi Suara Manusia Tetap Paling Dipercaya

Meski AI semakin diandalkan untuk mencari inspirasi produk, keputusan akhir untuk menekan tombol "Beli" alias checkout tetap bertumpu pada unsur kepercayaan manusia yang autentik.

Data menunjukkan, rekomendasi dari keluarga dan teman (skor 2,42 dari 4) tetap menjadi sumber yang paling sakti dalam memengaruhi keputusan pembelian. Posisinya disusul oleh ulasan daring/ online review (skor 2,36) dan kreator konten/ influencer (skor 1,98).

Baca juga:iQOO Z11x 5G Mendarat di Tuxlin Blog, Terbaik Buat Ngojol?

Hebatnya lagi, dua dari tiga konsumen (67%) mengaku pernah membeli suatu produk secara spesifik hanya karena produk tersebut direkomendasikan oleh kreator favorit mereka.

"Setiap pergeseran besar dalam e-commerce telah mengubah cara konsumen menemukan produk—dari mesin pencari, marketplace, media sosial, dan kini AI mewakili evolusi berikutnya," ujar Nick Randall, AVP, Customer Growth, APJ di impact.com.

"Namun meskipun proses penemuan terus berkembang, kepercayaan tetap sangat konsisten. Konsumen tetap mengandalkan kreator dan rekomendasi tepercaya untuk memvalidasi keputusan pembelian mereka. Peluang bagi brand bukanlah memilih antara AI dan kemitraan, melainkan memahami bagaimana keduanya dapat bekerja sama," tegasnya.

5 Poin Penting untuk Strategi Brand & Marketer di 2026

Bagi brand yang ingin bertahan dan mendominasi di era baru e-commerce ini, laporan tersebut menyoroti lima temuan krusial:

  • Marketplace Tetap Jadi Jagoan Utama: Sebanyak 71% konsumen masih menemukan produk baru melalui marketplace online, disusul oleh mesin pencari (57%), dan kini ditambah AI generatif (24%).
  • Adopsi AI Tidak Merata: Brand harus menyesuaikan strategi pasar karena tingkat penggunaan AI untuk belanja di Vietnam dan Indonesia jauh lebih masif ketimbang Singapura.
  • AI Bukan Pengganti Influencer: Kehadiran AI justru memperkuat, bukan menggantikan kreator. 40% konsumen menyatakan kehadiran AI tidak mengurangi ketergantungan mereka pada rekomendasi kreator.
  • Autentisitas Kalahkan Diskon Murah: Hampir separuh (49%) pembelian melalui tautan afiliasi didorong oleh rasa "kepercayaan dan validasi" dari si reviewer, bukan sekadar karena iming-iming diskon besar. Ulasan jujur adalah kunci!
  • Ekosistem Pemasaran Makin Terhubung: Brand kini wajib memiliki platform terpusat yang bisa melacak kontribusi seluruh mitranya (influencer, media, AI, dll) dalam satu tampilan agar kompensasi yang diberikan bisa akurat sesuai performa.

Kesimpulannya, AI memang mempermudah konsumen dalam mengeksplorasi produk. Namun, sentuhan manusia, ulasan jujur, dan rekomendasi dari orang terdekat adalah "gong" yang mengubah ketertarikan menjadi transaksi nyata!

Anda mungkin suka:Review Kamera Tecno Spark 30 Pro, Masih Terbaik di Kelasnya?

Post a Comment for "Riset Terbaru 2026: AI Sukses Ubah Cara Cari Barang, Tapi Konsumen Tetap Lebih Percaya 'Review' Manusia!"