Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DragonForce Ransomware: Kartel Baru yang Mengubah Wajah Pemerasan Hibrida di 2025

DragonForce Ransomware: Kartel Baru yang Mengubah Wajah Pemerasan Hibrida di 2025 - Di tengah lanskap ancaman dunia maya yang semakin berbahaya, DragonForce muncul sebagai pelaku ransomware paling menakutkan di tahun 2025. 

Dimulai dari akar hacktivist dan kini sepenuhnya tenggelam ke dalam ekonomi kejahatan siber, DragonForce mendefinisikan ulang pemerasan hibrida dengan model bisnis yang terdesentralisasi dan fleksibel.

DragonForce Ransomware: Kartel Baru yang Mengubah Wajah Pemerasan Hibrida di 2025
credit: wikimedia


Kartel Ransomware untuk Ekonomi Gig

Muncul pertama kali pada Desember 2023 melalui portal gelap “DragonLeaks”, DragonForce awalnya berakar dari kolektif hacktivist DragonForce Malaysia. Namun, pada tahun 2025, kelompok ini telah berevolusi menjadi kartel ransomware dengan strategi menarik afiliasi, termasuk pekerja lepas. Fitur unggulannya meliputi:

Baca juga:Advan Tab Sketsa 3 Review: Tablet Murah dan Lengkap, Tapi…

  • Bagi Hasil 20%: Profit sharing lebih menguntungkan dibanding Ransomware-as-a-Service (RaaS) lain.
  • Kit Label Putih: Afiliasi dapat membuat merek ransomware sendiri dengan menyesuaikan biner, catatan tebusan, dan ekstensi file.
  • Infrastruktur Lengkap: Menyediakan alat negosiasi, penyimpanan terenkripsi, dan situs bocor berstandar (RansomBay).

Setelah kejatuhan RansomHub pada April 2025, DragonForce dengan cepat menyerap afiliasi baru, menawarkan anonimitas, fleksibilitas, dan keuntungan operasional yang menarik—menjadikannya alternatif gesit bagi operator ransomware tradisional.

Lonjakan Aktivitas Ransomware di 2025

Laporan Check Point Q1 2025 mencatat rekor serangan ransomware global:

  • 2.289 korban secara publik dilaporkan dalam Q1, naik 126% dari tahun sebelumnya.
  • 74 kelompok ransomware aktif bersaing, dengan rata-rata 650 korban per bulan, naik dari sekitar 450 pada tahun 2024.
  • Banyak kelompok kini beralih ke metode pemerasan data tanpa enkripsi, memudahkan operasional dan mempercepat monetisasi.

Serangan Terhadap Sektor Ritel di Inggris

Pada April dan Mei 2025, DragonForce menargetkan pengecer terkemuka di Inggris, menyebabkan gangguan operasional pada platform e-commerce, program loyalitas, dan sistem internal. Data menunjukkan sektor Barang Konsumen & Layanan menjadi vertikal kelima yang paling banyak diserang dengan:

Baca juga:Asus Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC Review, Laptop yang Cocok untuk Kreator Konten!

  • 1.337 serangan siber mingguan per organisasi.
  • Peningkatan serangan sebesar 8% dibanding rata-rata nasional dan naik 22% YoY.

Strategi ini menandai pergeseran fokus dari pendapatan tebusan murni menuju pengumpulan data pribadi dalam jumlah besar untuk monetisasi sekunder.

Fragmentasi Ekosistem Ransomware dan Era AI

Setelah pengungkapan LockBit dan ALPHV pada 2024, ekosistem ransomware semakin terfragmentasi. Puluhan aktor tingkat menengah, seperti Akira, Medusa, dan Play, kini bersaing dengan model bisnis agresif—penawaran pembagian 80/20 tanpa biaya awal.

Tak hanya itu, penggunaan kecerdasan buatan (AI) mulai merambah pengembangan malware dan skala serangan dengan:

  • Pembuat malware berbantuan LLM yang menurunkan hambatan teknis.
  • Pemanfaatan deepfake untuk rekayasa sosial.
  • Pengelolaan kampanye phishing multibahasa dan serangan BEC yang semakin canggih.

Masa Depan Ransomware: Terdesentralisasi dan Otomatis

DragonForce bukan sekadar kelompok ransomware biasa. Mereka menggabungkan strategi pemasaran, model bisnis inovatif, dan ekosistem kejahatan dunia maya yang memudahkan pelaku baru membangun merek pribadi. Dengan menurunkan hambatan bagi dunia maya kriminal, DragonForce menetapkan tren baru: ransomware yang terdesentralisasi, otomatis, dan sangat mudah diakses.

Mereka telah menetapkan standar dari mana para pembuat dan pelaku kejahatan siber lainnya harus belajar, mempercepat profesionalisasi operasi ransomware global.

Kesimpulan

DragonForce telah sampai lebih dulu dalam era ransomware 2025 dengan memanfaatkan strategi hibrida dan otomatisasi berbasis AI. Keberhasilan kelompok ini menyoroti perubahan lanskap kejahatan dunia maya, dimana ancaman semakin fragmentasi namun dengan peluang monetisasi yang tinggi. Dalam dunia yang semakin digital, hanya intelijen keamanan real-time yang dapat menjadi tameng menghadapi ancaman seperti DragonForce.

Artikel oleh Check Point Research

Anda mungkin suka:HP Victus 16 s0055AX Review: Laptop Gaming Ngebut Tapi Nggak Bisa Dibeli!

Post a Comment for "DragonForce Ransomware: Kartel Baru yang Mengubah Wajah Pemerasan Hibrida di 2025"